BERBAIK DIRI DALAM IMAN, ILMU, AMAL, AKHLAK

JIWA INI NYATA TELAH DIPERJUALBELIKAN UNTUK KEMENANGAN, MENUJU JANNAH YANG DINANTI

catatan manis

Tampilkan postingan dengan label Ta'winul ummah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ta'winul ummah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Agustus 2011

Momentum kemerdekaan

17 Ramadhan 1932 H= 17 Agustus  2011 M

Satu hari menjadi pengenang momentum berharga bagi kita, sebagai gerbang kehidupan kita, sebagai pedoman dan sebagai tujuan dari adanya kita. 17 Ramadhan bertepatan dengan nudzulul Quran dimana momentum ini adalah gerbang menuju peradaban yang gemilang kemerdekaan dari kebodohan,  datangnya cahaya setelah kegelapan, Surat Al Alaq yang terbaca dengan terbata dan menggigil oleh Rasulullah tercinta itu,  Awal turun Al Quran telah memerdekan dengan perintah membaca sehingga dari kejahiliyahan menuju kecermelangan generasi karena Al Quran, momentum ramadhan momentum berharga, momentum penuh makna tertebar rahmat. Kita pun tahu kemenangan perang badarpun terjadi pada bulan ramadhan, fathu Makkah juga terjadi bulan ramadhan, penaklukan yaman pun juga terjadi pada bulan ramadhan, Kemudian diproklamasikan kemerdekaan Negara tercinta kita inipun pada akhir bulan ramadhan, yang sebelumnya para tokoh kita terdaluhu telah bersusah payah merebut kemerdekaan ini dengan kesusahpayahan yang berlandas pada keyakinan penuh pada Allah akan kemerdekaan Negara tercinta maka yakinlah bahwa proklamasi itu layak dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945 di jum’at terakhir bulan ramadhan.

Subhanallah Allah telah mengatur dengan begitui indahnya momentum berharga bagi kemerdekaan kita.

Kemudian sesungguhnya untuk apa kita merdeka itu?
Apakah tujuannya?
Apakah selama ini peringatan 17an sekedar ceremonial belaka tanpa bekas yang mengakar bagi yang memperingatinya.

Ok marilah sedikit menilik pada pembukaan UUD 1945 yang selalu terbaca ketika upacara disana jelas terpampang tujuan kemerdekaan itu : memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan, melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Inilah yang ingin dibangun oleh tokoh Negara kita dulu dari kelima point itu sesungguhnya islampun memberikan jalan menuju kesana dengan proses pendidikan kita dalam puasa.
Puasa ramadhan telah mendidik kita dengan tujuan seperti yang tertera dalam tujuan Kemerdekaan RI. Adanya kewajiban zakat fitrah diakhir ramadhan membentuk pribadi yang peduli sekitar dan dari situ dapat menuju tercapainya kesejahteraan umum,
kemudian momentum nuzdulul Quran pada bulan ramadhan dan menjadikan bulan ramadhan adalah bulan Al Quran menjadi salah satu pendidikan menuju cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa karena dalam Al quran adalah cahaya menuju kegemilangan ilmu,
beranjak selanjutnya kita melihat bahwa ramadhan adalah sarana pendidikan kita agar bisa merasakan laparnya kaum papa, dari situ menumbuhkan jiwa solidaritas dan hal ini dapat mencapai 2 tujuan kemerdekaan Negara kita yaitu melindungi segenap bangsa, menuju perdamaian abadi. Puasa juga menjadi sarana pembentuk tujuan pelaksanaan ketertiban dunia yang berdasar awal pada kedisiplinan dimana puasapun sangat mendidik kita dalam hal kedisiplinan.
Dari sini tujuan kemerdekaan bukanlah narasi impian semata "Narasi kemerdekaan bukanlah sebuah ekspresi cita-cita semata tetapi ia adalah janji. Pada setiap anak bangsa dijanjikan perlindungan, kesejahteraan, pencerdasan dan bisa berperan di dunia global". (anies baswedan) Perwujudan cita-cita itulah yang disebut oleh Anies Baswedan sebagai sebuah janji. Dan janji itu menunggu pelunasannya oleh para pemimpin bangsa!

Tujuan kemerdekaan Indonesia adalah menuju kebebasan dari penjajah, nah puasapun mempunyai out put bagi alumninya adalah merdeka dari kungkungan hawa nafsu yang merongrong jiwa…
hmmmmmmmmmm apakah benar Puasa bisa memerdekan kita dari penjajahan hawa nafsu yang berlebihan jikalau kita masih melihat “consumer kapitalis” merajalela di hamper setiap kota di negeri ini. Waaah consumer kapitalis yang dia membeli berlebihan, membeli banyak hal tanpa mempertimbangkan kebermanfaatannya, yang dia hanya mengandalkan keinginan dan nafsunya, dengan gaya hidup yang berlebihan. Sebagai contoh coba kita jalan di daerah suhat, perempatan ITN, daerah pasar besar, kemudian pasar belimbing atau hamper disetiap sudut kota menjelang berbuka puasa selalu kita akan melihat pola konsumsi masyarakat yang mengandalkan keinginan setelah merasa bahwa telah tertahan dari makan dan minum selama sehari menjadikan menjelang buka adalah waktu yang tepat untuk memerdekan kelaparan dan kehausan selama sehari dengan membeli berbagai produk yang padahal belum tentu semua muat dalam tubuh mereka, belum lagi ketika kita melihat pusat perbelanjaan menjelang hari raya, wuiiih full abis dari pusat perbelanjaan dari kalangan kebawah sebut saja pasar tradisional hingga kalangan tingkat ekonomi tinggi semuanya full seakan-akan mereka berlomba-lomba menuju kemenangan dengan memperlihatkan ini
"lho kekayaanku "
dengan membeli berbagai barang bukan pertimbangan kebutuhan mendasar namun lebih pada keinginan dan gengsi tingkat tinggi. memang benar dalam teori ekonomi tentang kenginan

“keinginan manusia itu tak terbatas tapi sesungguhnya kebutuhan manusia terbatas” jika kita mengetahui hakikat penggunaan harta kita dan teori ekonomi islam adalah kita melakukan konsumsi untuk mencapai falah bukan keinginan yang berlebih-lebihan sehingga berakibat pada kemewahan, ketidak puasan, keserakahan dan sangat cinta dunia, mungkin inilah awal dari terbentuknya jiwa koruptor yaitu jiwa yang takpernah puas dengan kehidupan dunia, merasa kurang terus, serakah, kurangnya sikap qona’ah, bukankah sikap ini telah diperingatkan oleh Allah dalam Al Quran


“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. “QS. Al-Isro’; 16.


“Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu. Dalam (siksaan) angin yang amat panas dan air yang panas yang mendidih, dan dalam naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan.Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah.” QS. Al-Waqi’ah: 41-45.

mereka hidup mewah dan terjerumus pada syahwat dan kelazatan duniawi. Maka Allah swt memberitahu bahwa kehidupan yang mewah akan menempah keburukan bagi kehidupan dunia dan akhirat. Sungguh sangat jelaslah Allah memperingatkan tentang kemewahan ini.  Inilah manusia yang tidak merdeka secara hakiki, walaupun mereka mengikuti pendidikan ramadhan namun tak berbekas berkahnya ramadhan.

Ok dalam konteks kenegaraan kita masih melihat keterjahaan masih melanda negeri tercinta ni tapi inipun tak bisa digeneralisir untuk semua, saya berusaha menyoroti kebelum merdekaan dari daerah malang raya saja.

Tujuan awal dari kemerdekaan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, kemudian  sudahkah kita melihatnya di malang raya ini, pendidikannya? Di tengah maraknya anak-anak putus sekolah, justru pemerintah menggulirkan program sekolah unggulan berlabel rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) dan sekolah bertaraf internasional (SBI).

Keberadaan dua sekolah ini dilema bagi dunia pendidikan kita. Di satu sisi pemerintah ingin membangun pendidikan unggulan, di sisi lain munculnya nuansa diskriminatif karena mahalnya biaya, berarti RSBI/SBI hanya mengakomodasi kalangan orang kaya.
hmmm semakin terasa klo sekolah berkualitas tinggi hanya untuk kaum berduit.

Beranjak ke pembangunan infrastuktur, apakah sudah merdeka dengan tujuan mensejahterahkan bangsa, dilihat saja daerah malang selatan masih banyak jalanan yang rusak dan tidak diperbaiki, kemudian adanya ketimpangan pembangunan dalam satu daerah saja, yang sebenarnya malang raya itu sangatlah kaya raya namun kendala kebijakan public dan fasilitas public yang belum memadai sehingga sempat muncul isu pemekaran daerah kabupaten malang yang sangat luas ini dan belum puasnya masyarakat dengan fasilitas yang diberikan pemerintah.

Yaaa ini hanya kegundahaan kami, entah jika pemerintah sudah sangat bekerja keras menuju kemerdekaan yang hakiki. Kami rakyat kecil berusaha berkontribusi untuk negeri sekecil apapun itu yang diawali dengan belajar dan menyebarkannya dg wacana yang dilanjut amal nyata untuk masyarakat dimulai dari memerdekan diri pribadi kemudian sekitar yang kami sangat yakin kemerdekaan hakiki bangsa tercinta ini pasti tercapai.

Berdoa dalam ramadhan untuk negeri tercinta lebih sejahterah dan berkah bukan menjadi negeri yang dimurka Allah karena kemewahannya. Beraksi untuk negeri…….

Nice quote yg menginspirasi untuk negeri dari kawan2ku nan jauh
Think globally act locally
Aku untuk negeriku/bangsaku
Negeri ini lebih aku cintai dari diriku sendiri

Kamis, 07 Juli 2011

membunuh perlahan-;lahan


Bissmillah
8 Juli 2011
membunuh perlahan-lahan... hahahaaa.. lebay ni judul.. tapi tak apa... cari sensasi.. 
Fenomena ini selalu terlihat dan dihadapi tiap tahun, entah sampai kapan, ya sampai kapan? Setiap moment ini, setiap waktu ini, selalu seperti ini, apalagi dalam bulan ini kita akan menghadapi beberapa moment besar. Tahun ajaran baru, menjelang ramadhan dan hari raya, kemudian ya kemerdekaan RI. Berbagai surat kabar dan elektronik banyak mengabarkan hal ini, mengabarkan hamper semua daerah mengalaminya, sungguh kita kemungkinan besar tidak akan pernah lepas dari ni penyakit tahunan jika tidak difokuskan untuk membasminya. Mendengar keluhan ibu-ibu rumah tangga, penjual di pasar maupun membaca beberapa artikel menjadilah diri berfikir sampe kapan ya kasus ini berlangsung, ya ini sudah jadi sunatullah kali ya ( hahaaa, ketawa saja) why? Karena tiap taun inflasi selalu menyerang jika menjelang moment-moment besar seperti ini, juli awal ini aja pak rusman heriawan memprediksi inflasi mencapai lebih dari 0,55% mengingat inflasi bulan juni kemarin emang sudah 0,55% namun masih kata beliau inflasi blm sampe ke 1% waaah jangan sampe deh dg inflasi 1%. (cek http://nasional.kontan.co.id/v2/read/1309937399/72116/BPS-Inflasi-bulan-Juli-bakal-di-atas-055)
So whats wrong with its? Hay.. ayoooo banguuuun.. ini berdampak yang luar biasa neng, bisa membunuh rakyat perlahan-lahan ni, jika kenaikan bahan-bahan pokok terus merambat naik tapi tak diimbangi dengan tingkat produktifitas dan kesejahteraan. Klo menurut dosen saya ni bapak erani ya ini akibat spekulan yang berkeliaran dengan bebas ditambah pasokan produksi yang kurang pada moment tertentu, klo ni spekulan masih jalan berlegak lenggok di jagad perdagangan dengan bebasnya hmmmm, pasti dah bisa diprediksi kan? Ya bisa membunuh rakyat perlahan-lahan (maaf agak dilebaykan) ni klo pemerintah ndak serius menangani spekulan dan pasokan produksi ya bakalan terus kayak gini bahkan akan beranjak naik ni angka inflasi, eeh lebih detail baca pendapatnya pak erani di harian suara karya  disini http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=282350
Ya pastilah pemerintah melakukan banyak kebijakan untuk saat ini bapak presiden pun tak mau kecolongan untuk moment ini, beliau pada sidang paripurna  tanggal 7 kemarin memberikan arahan kepada menteri coordinator perekonomian Hatta Rajasa, untuk terus menjaga stabilitas  harga  dengan operasi pasar, ya kalo kata bapak Hatta Rajasa ni persedian beras di bulog masih mencukupi untuk moment-moment besar itu, lebih lengkap tengok disini (http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2011/07/07/7003.html
Nah iya memang selama ini operasi pasar selalu lah menjadi solusi untuk menstabilitas harga namun kalo kata bu sri adiningsih masih dalam suara karya selain dari pasokan bahan tapi juga regulasi yang sangat lemah dan teknologi yang kurang mendukung, coba kalo ada teknologi yang bisa mempertahankan bahan pangan hingga beberapa bulan ke depan untuk pendapat bliau liat disini (http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=282307)
Hmm… saya kok senyum-senyum aja ya baca surat kabar pagi ini setelah perjalanan dari pasar dengan melihat kepusingan para ibu rumah tangga dalam mengelolah keuangan mereka sebab berbagai kebutuhan pokok naik, wih-wiiih mau sampai kapan ni kasus jalan terus… selama masih banyak spekulan dengan enaknya berlenggang-lenggong di dunia perekonomian tanpa ada ketegasan yang jelas, manajemen produksi pangan, regulasi, kemudian beberapa kebijakan yaaa bisa dikatakan tetaplah kayak gini sampai entah kapan so memang harus menyiapkan dana lebih untuk moment khusus…ya sepertinya di dunia kapitalisme tak akan pernah lepas dari dunia spekulasi. Oooh no.. inilah indahnya dalam konsep ekonomi islam adanya larangan spekulasi. Oh ya namun tak hanya itu, dari fenomena ini tercermin bahwa moment ramadhan dan hari raya adalah moment untuk membeli banyak barang, liat saja mall2 dan pasar-pasar pasti dipenuhin para pengunjung, paradigm untuk mengkonsumsi lebih banyak dna kemungkinan berboros ria selalu menjadi pemandangan yang wajar, ya pemandangan yang wajar karena kemungkinan paradigm masyarakat tentang konsumsi masih bersifat pragmatis, masih sering menganggap jika saya mengkonsumsi banyak barang maka akan terlihat wah dikalan banyak orang.. hahaaa… yayayaaaaa… dunia konsumerisme ….
Eeeh saya masih optimis kok kedepannya perekonomian Indonesia akan membaik jika masih banyak pejuang perekonomian makin peka dan berkompetensi..yes its will become true in next time if we struggle hardly together..
Ya Allah saya berdoa di jumat berkah ini semoga Indonesia sejahtera bukan negeri yang terlaknat karena kemewahan seperti dalam surat al israa ayat 16 ni artinya:
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta'ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”
Nah lho-nah lho.. jangan sampe deeh…
Tulisan iseng setelah mendengar keluhan ibu dan ibu-ibu sekitar rumah dan para pedagang dipasar serta dari baca-baca artikel…
Maaf bahasanya kali ini lebay banget.. cuman sebagai refleksi, iseng-iseng aja..:)


Senin, 20 Juni 2011

Ikut arus berita TKI

Banyak kita mendengar maupun membaca berita tentang ini karena saat ini masalah TKI lagi panas-panasnya, saya pun punya sedikit pendapat tentang ini yang tertuang dalam curahan dari tulisan, tak jarang hati teriris ketika menyimak itu semua,…sapa coba yang tidak?
Melihat negeri seperti ini? Warganya mengungsi hanya meraih beberapa  real, ringgit maupun dolar, namun tak sebanding dengan sosial cost yang mesti terbayarkan akibat meraih puing-puing itu.
Sejenak berenung apa arti semua ini?? Biarlah para pembesar kita berfikir untuk solusi konkret, namun jika kita punya jalan keluar yang lebih konkret kenapa tidak segera di jalankan? Akan pusing, capek,  dan masih banyak lagi klo melihat permasalahan TKI seperti bola ruwet ini namun akankah kita diam jika sekitar kita ada yang mengalami, terenyuh juga dengan kisah suryati, darsem dan ratusan kisah para TKI itu yang banyak menganggap bahwa mereka adalah pahlawan devisa Negara tapi ya tak seperti itu pula nyari devisa yang katanya emang dari TKI ini adalah urutan kedua setelah perolehan migas.
Banyak mungkin yang terpapar masalah disini, rumit, namun masih ada optimistis.
Mereka sebagian besar adalah wanita yang bekerja di luar negeri yang sebagian besar memang dari pedesaan, ya pedesaan maka tak jarang ketika saya pun mengunjungi pedesaan di daerah saya banyak rumah yang sangat bagus kayak istana, setelah berdialog dengan mereka ya rata-rata para ibu adalah pekerja di luar negeri, sukses juga secara financial namun social costnya tak dapat terbayarkan, anak terlantar, suami main serong, ada kasus teman saya yang eprgi keluar negeri juga suaminya ampe nyabu dan mereka akhirnya bercerai, anaknya tak terawat.
Akar masalah sebenarnya kita pada tahu bahwa pasokan pekerjaan di desa yang sangat kurang, padahal potensi di desa sangat luar biasa jika ada ilmu dan nyang mau ngelolah disana. Para pemuda udah ogah tinggal didesa yang minim fasilitas, indentik dengan kemiskinan, dan orang-orang desa yang cerdas justru ia akan menetap di kota (maaf tapi ini tidak disemua daerah kok, ga bermaksud megeneralisir) menganggap bahwa tak ada peluang besar kita hidup di desa.
Begitupun dengan para ibu rumah tangga yang ia sangat tergiur dengan hasil tetangga sebelah, kemudian ditawari agen yang ia rela ke desa-desa. Hmmm…. Miris juga. Jika ada manajemen desa yang baik kemudian pekerjaan berlimpah ruah di desa, kesejahteraan mereka terjamin mungkin tak tergiur mereka kesana, so preventifnya ya kembali ke desa walau tak semudah membalikan telapak tangan. Tapi berusahalah kesana, walau sedikit yang kita lakukan memaksimalkan potensi yang ada. Agar merasa nyaman mereka. Kembali membina desa dengan pembinaan iman, pembinaan perekonomian, pembinaan pendidikan dan skill mereka tak jarang yang sukses kok di 33 kecamatan kabupaten malang aja permasing-masing desa masih ada produk unggulan dan ketrampilan mereka yang patut dikelolah lebih, dan juga pemaksimalan PNMP mandiri itu pula ya walaupun sebagian terselip di pejabat tapi ini bisa jadi alternative juga.
Semoga bisa menuju desa yang sejahtera…